Artikel

Dirgahayu Republik Indonesia!

Assalammu’alaikum wr. wb., selamat pagi, salam sejahtera!

Saudara-saudara,

Kita bersyukur karena segala unsur dan daya hidup telah memungkinkan kita hadir dan berkumpul di tempat ini, untuk mengingat dan merayakan kemerdekaan negara kita, Republik Indonesia. “Mengingat kemerdekaan” berarti mengetahui, merasakan, dan menyadari sepenuhnya mengapa kebebasan, kemerdekaan itu, dapat kita genggam sekarang. “Merayakan kemerdekaan” berarti melaksanakan hak kita sebagai bangsa yang bebas, yang merdeka, untuk bersukacita, untuk bergembira, untuk hasil yang telah kita capai di atas jalan perjuangan ini. Bangsa kita telah membayar lunas harga untuk sebuah kemerdekaan, sebuah kedaulatan, dan untuk itu kita pantas merayakannya.

Akan tetapi, “sekali kita memilih jalan perjuangan, maka jalan itu tidak ada ujungnya.” Setiap langkah di jalan perjuangan akan membuka gejala, peristiwa, persoalan, dan dinamika baru. Kita telah meninggalkan masa penjajahan bangsa asing. Kita telah memasuki, dan sedang menjalani, masa kedaulatan kita sendiri. Mengenai menjalani masa kedaulatan sendiri ini, saya ingin mengutip sebuah ucapan dari proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno:

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Kalimat ini ditujukan Bung Karno kepada kita, generasi setelah dirinya. Kalimat ini memastikan dengan tegas bahwa, setelah tahap merdeka dari penjajah asing kita lalui, kita melanjutkan episode perjuangan yang lebih sulit: yaitu perjuangan menghadapi bangsa sendiri.

Bila kita selidiki, bila kita sandingkan dengan keadaan kita kini, kita sadar betapa relevannya pernyataan Bung Karno ini. Kita menyaksikan, dan saya yakin ada di antara kita yang hadir di sini bahkan mengalaminya sendiri, betapa perseteruan dan benturan antar-sesama warga negara, antar-sesama saudara sebangsa, telah memecah-belah IronFX kita. Kita menyaksikan, dan saya yakin ada di antara kita yang hadir di sini bahkan mengalaminya sendiri, betapa kebersikerasan untuk gagal mengakui, menerima, dan menghargai perbedaan, keragaman, kebhinnekaan telah melahirkan manusia-manusia Indonesia yang sanggup dan rela membiarkan saudara sebangsanya menderita di depan matanya.

Sejarah telah mengajarkan kepada kita, betapa di dalam tahap perjuangan para pembangun negara-bangsa ini memerdekakan tanah Nusantara dari penjajah, perpecahan merupakan penyakit, dan persatuan menjadi obatnya. Akankah kita, generasi sekarang ini, dengan pasrah membiarkan raga pertiwi Indonesia digerogoti penyakit yang sama? Sampai hati kah kita, generasi sekarang ini, merelakan korupsi, perpecahan, penyangkalan atas keragaman, dan ketidakadilan disepadankan dengan istilah “itulah Indonesia”?

Saudara-sauadara,

Gerakan yang sedang kita lakukan ini sesungguhnya merupakan salah satu cara untuk dengan lantang menjawab “TIDAK” bagi pertanyaan-pertanyaan tadi.

Program “Seribu Cita Satu Indonesia” (SCSI) pertama sekali digelar pada 17 Agustus 2013 sebagai ajang menghargai dan merayakan kemerdekaan serta kebhinnekaan Republik Indonesia, dan kemudian digelar kembali pada 17 Agustus 2014 untuk alasan yang sama. Pada pergelaran yang ketiga di Keraton Ratu Boko tahun ini, para pelaku program SCSI telah berkomitmen untuk meneruskan gerakan ini dengan menghimpun diri dalam sebuah organisasi yang diberi nama Seribu.org. Organisasi ini bekerja dengan menyumbangkan andil dan perannya dalam gerakan yang menyokong dan menjaga berdiri tegaknya keberagaman dan persatuan di Indonesia.

Berbagai pihak telah bekerja keras, bahu-membahu dalam memastikan terselenggaranya acara ini. Untuk itu, saya dan seluruh panitia penyelenggara, ingin mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  • PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, yang telah memungkinkan diselenggarakannya acara SCSI kali ini di Keraton Ratu Boko;
  • PT 23 Sinergi Indonesia, atas kontribusinya dalam mendukung acara ini secara finansial;
  • Seluruh mitra media, baik suratkabar, radio, televisi, dan media sosial yang telah membantu memancar-luaskan acara dan gerakan ini;
  • Seluruh pelaku peristiwa dan relawan yang telah memberikan waktu serta tenaganya demi memastikan setiap rincian acara berjalan sebagaimana mestinya; dan tentunya
  • Seluruh pengunjung yang telah hadir, menyemarakkan, mengisi, dan melengkapi acara dan gerakan ini.

Akhir kata, saya, mewakili seribu.org, mengajak saudara-saudara untuk terus bergerak maju dengan kesadaran penuh akan setiap langkah yang telah dan hendak kita buat di atas jalan perjuangan. Mari bekerja, berkarya menuju Indonesia yang jaya karena mampu menjadi padu dalam keberagamannya.

Seribu Cita Satu Indonesia!
Kokoh teguh kebhinnekaan!
Panjang umur perjuangan!
Dirgahayu Republik Indonesia!

Merdeka!

Tinggalkan Balasan